(sumber foto: sharingdisini.com)
(InfoDidaku-11/01/15)--Suatu hari, seorang ibu muda berbelanja di pasar. Hari itu
ia berniat memasak ikan laut. Dengan langkah mantap, ia pun menuju kios ikan
laut satu-satunya di pasar dekat rumahnya itu. Di sana sudah berjajar rapi
udang, ikan salmon, dan ikan laut lainnya yang sudah dibungkusi dengan plastik.
Ia langsung menimang-nimang satu bungkus ikan salmon yang sudah
dipotong-potong.
“Ini sama kayak yang kemarin kan, Bu?” ujar si Ibu Muda,
karena ia sudah pernah membeli ikan yang sama kepada penjual itu beberapa hari
sebelumnya.
“Iya, Bu. Sama,” jawab si penjual.
“Setengah kilo ini?” ujarnya agak ragu karena isi bungkusan
tampak lebih sedikit dari yang sebelumnya.
“Iya, lima belas ribu,” jawab si penjual lagi. “Itu ada yang
potongannya besar, ada yang kecil, jadi kelihatannya beda,” lanjutnya melihat
si Ibu Muda yang masih bermimik agak ragu. Ia tersenyum.
Tanpa pikir panjang, si Ibu Muda pun memilih satu bungkus
dan memberikan si penjual uang lima belas ribu rupiah.
“Terima kasih,” kata si Ibu Muda sembari tersenyum.
“Sama-sama,” sahut si penjual, membalas senyumnya.
Sesampainya di rumah, si Ibu Muda langsung membuka bungkusan
ikan salmon itu untuk diolah. Suaminya yang sedang ada di dapur ikut membantu
memotongi ikan itu.
“Ini berapa segini?” tanya sang suami.
“Lima belas ribu,” jawab si Ibu Muda.
“Wah, mahal, ya,” ujar sang suami kemudian.
“Kayak yang kemarin kok, Mas, setengah kilo,” kata si Ibu
Muda.
“Masa, sih? Kayaknya ini lebih sedikit, kayak seperempat
kilo,” kata sang suami.
Si Ibu Muda pun menghampiri suaminya dan melihat
potongan-potongan ikan yang sudah dimasukkan ke dalam baskom kecil. “Oh iya,
ya... Tadi penjualnya bilang itu sama kayak kemarin. Wah, berarti aku ditipu
ini, Mas. Tadi aku juga agak ragu, tapi aku lupa bungkusan yang kemarin
banyaknya seberapa,” si Ibu Muda pun tampak sangat menyesal. Maklumlah,
ibu-ibu, selisih seratus rupiah pun biasanya dibela-bela kalau belanja. “Apa
aku balik ke sana lagi saja, ya, Mas?” lanjutnya.
“Ya aneh, apalagi ikannya sudah dipotong-potong...” ujar
sang suami.
“Iya, ya. Haduh, menyesal aku...” kata si Ibu Muda.
“Ya jangan menyesal, dong,” ujar sang suami. “Berarti itu
rejekinya si penjual,” simpulnya sederhana sembari tersenyum.
“Hmmm...” gumam si Ibu Muda, ia pun ikut tersenyum kemudian.
Itu adalah sepenggal kisah nyata dari salah satu saudari
sesama muslim kita. Mungkin masih banyak kisah lain yang serupa. Banyak para
ibu-ibu atau siapapun yang membeli sesuatu kemudian merasa tertipu karena
harganya lebih mahal dari yang seharusnya. Banyak di antara mereka yang
menyesal seharian penuh, bahkan malamnya tidak bisa tidur, terutama jika barang
yang ia beli bernilai besar.
Bagi si ibu muda tadi, pernyataan suaminya sungguh
menenangkan. Betul juga, mungkin memang itu adalah rejeki si penjual, terlepas
dari status halal/haramnya. Kalau terus-terusan disesali malah akan jadi
penyakit buat kita. Sekali-kali. Biasanya juga kita sering menawar ke penjual
dan bisa dapat murah. Atau mungkin itu jadi hukuman buat ibu-ibu yang suka
menawar keterlaluan sama penjual, wallahu a’lam.
Dalam kisah tadi, si Ibu Muda pun mengaku berdoa kepada
Allah. Jika ia ikhlas, ia berharap supaya nutrisi ikan salmon yang ia beli akan
tetap sama dengan jumlah yang ia bayarkan. Bukankah tidak ada yang tidak
mungkin kalau Allah sudah berkehendak? Kita punya logika bahwa anak-anak yang
selalu makan-makanan mahal dan bergizi tinggi otomatis akan menjadi anak yang
cerdas. Tetapi bukankah kita juga tidak jarang melihat anak-anak cerdas lahir
dari keluarga sederhana yang hampir setiap hari hanya makan nasi dan kerupuk
saja? Di situlah letak berkah Allah. Allah akan melipatgandakan rizki
orang-orang yang bersyukur. Mungkin saja, keluarga sederhana yang setiap hari
hanya makan dengan lauk kerupuk sangat pandai bersyukur dan penuh kesabaran.
Kualitas gizi kerupuk yang ia makan jadi lebih tinggi dari unagi, misalnya,
yang selalu dibangga-banggakan orang Jepang itu. (Note: tapi perumpamaan ini
jangan dijadikan hujjah untuk hidup pelit--jika kita mampu--dengan hanya makan kerupuk setiap
hari asal bersyukur). Kita harus tetap berusaha makan-makanan yang
bergizi, tapi juga tidak berlebihan).
Si Ibu Muda dan suaminya mungkin tak memakan ikan salmon
sebanyak sebelumnya, tetapi bisa saja nutrisi yang mereka dapatkan saat itu
malah jauh lebih besar, insya Allah. Karena mereka ikhlas dan tetap bersyukur.
Mereka tak terus menanamkan buruk sangka dan kebencian pada si penjual, atau
menyalahkan Allah, kenapa mereka harus ditipu--na’udzbuillaah. Mereka kemudian hanya
mengambil sikap untuk lebih berhati-hati ketika berbelanja lain kali. Tak
lebih. Mereka pun tetap bisa menjalani hari itu dengan tenang.
Wallahu a’lam bishshawab.