Sabtu, 10 Januari 2015

Tertipu, Ikhlas, dan Bersyukur

(sumber foto: sharingdisini.com)

(InfoDidaku-11/01/15)--Suatu hari, seorang ibu muda berbelanja di pasar. Hari itu ia berniat memasak ikan laut. Dengan langkah mantap, ia pun menuju kios ikan laut satu-satunya di pasar dekat rumahnya itu. Di sana sudah berjajar rapi udang, ikan salmon, dan ikan laut lainnya yang sudah dibungkusi dengan plastik. Ia langsung menimang-nimang satu bungkus ikan salmon yang sudah dipotong-potong.

“Ini sama kayak yang kemarin kan, Bu?” ujar si Ibu Muda, karena ia sudah pernah membeli ikan yang sama kepada penjual itu beberapa hari sebelumnya.
“Iya, Bu. Sama,” jawab si penjual.
“Setengah kilo ini?” ujarnya agak ragu karena isi bungkusan tampak lebih sedikit dari yang sebelumnya.
“Iya, lima belas ribu,” jawab si penjual lagi. “Itu ada yang potongannya besar, ada yang kecil, jadi kelihatannya beda,” lanjutnya melihat si Ibu Muda yang masih bermimik agak ragu. Ia tersenyum.
Tanpa pikir panjang, si Ibu Muda pun memilih satu bungkus dan memberikan si penjual uang lima belas ribu rupiah.
“Terima kasih,” kata si Ibu Muda sembari tersenyum.
“Sama-sama,” sahut si penjual, membalas senyumnya.
Sesampainya di rumah, si Ibu Muda langsung membuka bungkusan ikan salmon itu untuk diolah. Suaminya yang sedang ada di dapur ikut membantu memotongi ikan itu.
“Ini berapa segini?” tanya sang suami.
“Lima belas ribu,” jawab si Ibu Muda.
“Wah, mahal, ya,” ujar sang suami kemudian.
“Kayak yang kemarin kok, Mas, setengah kilo,” kata si Ibu Muda.
“Masa, sih? Kayaknya ini lebih sedikit, kayak seperempat kilo,” kata sang suami.
Si Ibu Muda pun menghampiri suaminya dan melihat potongan-potongan ikan yang sudah dimasukkan ke dalam baskom kecil. “Oh iya, ya... Tadi penjualnya bilang itu sama kayak kemarin. Wah, berarti aku ditipu ini, Mas. Tadi aku juga agak ragu, tapi aku lupa bungkusan yang kemarin banyaknya seberapa,” si Ibu Muda pun tampak sangat menyesal. Maklumlah, ibu-ibu, selisih seratus rupiah pun biasanya dibela-bela kalau belanja. “Apa aku balik ke sana lagi saja, ya, Mas?” lanjutnya.
“Ya aneh, apalagi ikannya sudah dipotong-potong...” ujar sang suami.
“Iya, ya. Haduh, menyesal aku...” kata si Ibu Muda.
“Ya jangan menyesal, dong,” ujar sang suami. “Berarti itu rejekinya si penjual,” simpulnya sederhana sembari tersenyum.
“Hmmm...” gumam si Ibu Muda, ia pun ikut tersenyum kemudian.

Itu adalah sepenggal kisah nyata dari salah satu saudari sesama muslim kita. Mungkin masih banyak kisah lain yang serupa. Banyak para ibu-ibu atau siapapun yang membeli sesuatu kemudian merasa tertipu karena harganya lebih mahal dari yang seharusnya. Banyak di antara mereka yang menyesal seharian penuh, bahkan malamnya tidak bisa tidur, terutama jika barang yang ia beli bernilai besar.

Bagi si ibu muda tadi, pernyataan suaminya sungguh menenangkan. Betul juga, mungkin memang itu adalah rejeki si penjual, terlepas dari status halal/haramnya. Kalau terus-terusan disesali malah akan jadi penyakit buat kita. Sekali-kali. Biasanya juga kita sering menawar ke penjual dan bisa dapat murah. Atau mungkin itu jadi hukuman buat ibu-ibu yang suka menawar keterlaluan sama penjual, wallahu a’lam.

Dalam kisah tadi, si Ibu Muda pun mengaku berdoa kepada Allah. Jika ia ikhlas, ia berharap supaya nutrisi ikan salmon yang ia beli akan tetap sama dengan jumlah yang ia bayarkan. Bukankah tidak ada yang tidak mungkin kalau Allah sudah berkehendak? Kita punya logika bahwa anak-anak yang selalu makan-makanan mahal dan bergizi tinggi otomatis akan menjadi anak yang cerdas. Tetapi bukankah kita juga tidak jarang melihat anak-anak cerdas lahir dari keluarga sederhana yang hampir setiap hari hanya makan nasi dan kerupuk saja? Di situlah letak berkah Allah. Allah akan melipatgandakan rizki orang-orang yang bersyukur. Mungkin saja, keluarga sederhana yang setiap hari hanya makan dengan lauk kerupuk sangat pandai bersyukur dan penuh kesabaran. Kualitas gizi kerupuk yang ia makan jadi lebih tinggi dari unagi, misalnya, yang selalu dibangga-banggakan orang Jepang itu. (Note: tapi perumpamaan ini jangan dijadikan hujjah untuk hidup pelit--jika kita mampu--dengan hanya makan kerupuk setiap hari asal bersyukur). Kita harus tetap berusaha makan-makanan yang bergizi, tapi juga tidak berlebihan).

Si Ibu Muda dan suaminya mungkin tak memakan ikan salmon sebanyak sebelumnya, tetapi bisa saja nutrisi yang mereka dapatkan saat itu malah jauh lebih besar, insya Allah. Karena mereka ikhlas dan tetap bersyukur. Mereka tak terus menanamkan buruk sangka dan kebencian pada si penjual, atau menyalahkan Allah, kenapa mereka harus ditipu--na’udzbuillaah. Mereka kemudian hanya mengambil sikap untuk lebih berhati-hati ketika berbelanja lain kali. Tak lebih. Mereka pun tetap bisa menjalani hari itu dengan tenang.



Wallahu a’lam bishshawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar