Selasa, 22 Desember 2015

Anak Kita Bukan Sedang Berlomba

InysaAlloh, satu minggu lagi putriku berumur 10 bulan. Putriku yang sholihah, cantik dan manis. Ia adalah penyejuk hatiku dan suamiku. Qaulan Sadida namanya. Perkataan yang jujur, kalau diterjemahkan. Kami ambil dari Q.S. An-Nisa ayat 9.

Putriku sekarang sedang belajar merangkak. Masih belum sampai 10 langkah. Kalau ia tertawa, masih hanya kelihatan gusinya yang merah menggemaskan. Sejak dua bulan terakhir, ia sedang senang cerewet "bah bah bah, da da da, bwuh bwuh bwuh, ngeng ngeeeeng" hehehe. Dan minggu kemarin dia baru saja bisa bertepuk tangan, terutama kalau dinyanyikan pok ame-ame.

Banyak orang yang bertemu, lalu bertanya, "Putrimu sudah bisa apa?". Aku jawab duduk, dan beberapa hari terakhir aku jawab merangkak. "Wah hebat, memang sudah berapa bulan?". Aku jawab 9. Tadinya mungkin mau diteruskan, "Wah, cepat ya...". Tapi sepertinya kalimat itu tercekat di tenggorokannya, hehehe.

Tapi berani jamin, aku tidak pernah merasa sedikitpun kepikiran berat dengan perkembangan motorik putriku. Ya Alloh, bahkan dalam ilmu tumbuh kembang anak itu sangat normal. Semua anak mempunyai periode perkembangan yang berbeda-beda. Putriku sangat lincah dan riang. Ia tidak pernah menangis kecuali digendong oleh orang yang belum dia kenal. Cerewet tapi anteng. Nglesa kalau kata tetangga di kampung kami. Bukan berarti aku mengabaikan perkembangannya. Tapi aku tidak ingin memaksa anakku untuk bisa ini dan itu dalam usia dini. Anak kita bukan sedang berlomba. Ia sedang menikmati awal-awal kehidupannya. Bayangkan kalau dia baru menikmati dunia ini lalu kita paksa dia mencapai ini dan itu. Sedih.

Bukan berarti juga kita tidak perhatian dengan buah hati kita. Hanya saja jangan meletakkan kekhawatiran pada tempat yang salah. Karena akibatnya bisa fatal, apalagi menyangkut masa depan psikologis anak kita.

Salam hangat buat para sesama emak-emak rempong :D :)

Jumat, 16 Januari 2015

Ini Dia Tips Lancar Mengurus Kepesertaan BPJS Kesehatan Mandiri Secara Manual

(Sumber foto: harianterbit.com)
(InfoDidaku-14/01/15)--Program asuransi kesehatan nasional bagi warga negara Indonesia yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) telah terlaksana cukup lama. Namun hingga saat ini masih banyak masyarakat yang belum mendaftar menjadi peserta, terutama mereka yang tidak berstatus sebagai PNS atau karyawan resmi perusahaan. Sebagian besar karena merasa belum terlalu membutuhkan. Tapi, bagi mereka yang termasuk kelompok rentan seperti ibu hamil dan lansia, menjadi peserta BPJS merupakan salah satu kebutuhan prioritas.

BPJS sendiri terdiri dari dua jenis, yaitu BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan. Singkatnya, BPJS Ketenagakerjaan merupakan transformasi dari Jamsostek, yang menangani asuransi kecelakaan kerja, kematian, dan dana pensiun untuk para tenaga kerja. Sedangkan BPJS Kesehatan merupakan transformasi dari asuransi kesehatan (Askes) yang menangani asuransi untuk pemeriksaan kesehatan/pengobatan untuk umum. Yang akan dibahas dalam tulisan InfoDidaku kali ini adalah BPJS Kesehatan.

Saat sudah merasa perlu mendaftar, hambatan terjadi ketika seseorang tidak tahu bagaimana cara mengurusnya. Belum lagi pendaftaran secara online sering mengalami trouble. Jadilah calon peserta mau tidak mau harus mengurus secara manual. BPJS Kesehatan sendiri telah melakukan sosialisasi mengenai tata cara pendaftaran dan persyaratannya baik melalui media cetak maupun elektronik. Namun, tetap saja masih banyak masyarakat yang belum paham atau bahkan belum tahu. Dan ternyata, untuk mengurusnya dengan lancar, seseorang perlu melakukan persiapan lebih dari sekedar persyaratan yang disosialisasikan. Terutama supaya calon peserta merasa nyaman dalam mengikuti prosesnya. Persiapan apakah itu? Yuk terus simak tulisan InfoDidaku ini.

Jadi, untuk mengurus BPJS Kesehatan dengan lancar, perlu trik-trik khusus dalam setiap tahapannya. Berikut InfoDidaku sarikan beberapa tips yang dibagi dalam dua tahapan (berdasarkan peraturan BPJS Kesehatan yang berlaku per Desember 2014):

Pra pendaftaran

Sebelum berangkat ke kantor BPJS di wilayah calon peserta, persiapkan dulu semua berkas administrasi selengkap-lengkapnya. Adapun persyaratan administrasi tersebut adalah: fotokopi KK, fotokopi KTP suami dan istri, fotokopi KTP/akta kelahiran seluruh anak (jika anak belum punya KTP), fotokopi buku rekening tabungan (BRI/BNI/Mandiri; yang konvensional/bukan syariah), fotokopi surat nikah, dan pasfoto masing-masing anggota keluarga 3x4 berwarna (masing-masing 1 buah). Nah, ini yang perlu ditambahkan: bawa juga berkas aslinya, karena saat pengajuan autodebit ke bank, pihak bank bisa meminta untuk menunjukkan KTP dan KK asli, mekipun ada juga yang tidak meminta. Setelah semua berkas benar dan lengkap, barulah calon peserta bisa berangkat dengan tenang ke kantor BPJS Kesehatan.

Saat pendaftaran

Adapun alur pendaftarannya sebagai berikut: verifikasi berkas --> pembayaran iuran pertama --> pengajuan autodebit ke bank --> pengambilan kartu. Singkat ya, sebenarnya? Tapi karena animo masyarakat semakin ke sini semakin banyak yang menyadari pentingnya menjadi peserta BPJS Kesehatan, akhirnya setiap hari ada ratusan calon peserta yang datang mendaftar. Akibatnya, antrian mengular pun tak terhindar. Nah, tips agar tidak lelah mengantre atau memang dalam kondisi sibuk, datanglah ke kantor BPJS sepagi mungkin. Langsung ambil nomor antrean untuk verifikasi berkas. Jika giliran masih lama, sempatkan untuk mengambil nomor antrean untuk pembayaran iuran pertama. Jadi kita sudah pegang dua nomor antrean sekaligus.

Setelah verifikasi berkas selesai dan distempel oleh petugas, saatnya menuju pembayaran iuran pertama. Tunggu sampai nomor giliran kita dipanggil--kalau sudah kelewat, ambil nomor antrean lagi. Setelah itu kita akan diminta petugas untuk membayar iuran pertama ke kasir bank yang tersedia di kantor BPJS sesuai dengan rekening yang kita miliki. Kata petugas sih, iuran pertama bisa dibayar di mana saja, antara BRI, BNI, atau Mandiri. Tapi perlu diingat teman, kode bank Mandiri (8988) berbeda dengan BRI dan BNI (8888), jadi kalaupun mau bayar iuran pertama di bank lain, bayarlah iuran pertama sesuai kode bank yang sama. Misal kita punya rekening BRI, maka bayarlah di BRI atau BNI, jangan di Mandiri, ini untuk memudahkan proses pengajuan autodebit di bank tempat calon peserta memiliki rekening.

Setelah selesai membayar, calon peserta menuju bank tempat ia memiliki rekening untuk mengajukan autodebit. Jangan lupa bawa bukti pembayaran iuran pertama dan siapkan berkas-berkas asli yang tadi InfoDidaku sebutkan di awal. Selesai pengajuan, kita kembali lagi ke kantor BPJS. Langsung saja menuju loker satu dan menyerahkan bukti pemrosesan autodebit kepada petugas. Tunggu sampai kita dipanggil, dan kartu BPJS pun akan diterima.

Perlu diketahui, autodebit adalah sistem yang memungkinkan iuran peserta BPJS dipotong langsung setiap bulannya dari tabungan yang didaftarkan. Namun apabila saldo tabungan tidak mencukupi, maka peserta harus membayar ke bank/ATM secara manual jika tidak ingin kartu BPJS dinonaktifkan.

Durasi

Jika beruntung, sebenarnya proses pendaftaran BPJS Kesehatan tidak memakan waktu lama. Namun karena panjangnya antrean, yang jika dirinci menjadi 4 kali antre (antre verifikasi berkas, antre pembayaran iuran pertama, antre pengajuan autodebit, dan antre pengambilan kartu), maka durasinya menjadi panjang. Sebagai contoh, salah seorang rekan InfoDidaku melakukan proses pendaftaran  di Kantor BPJS Kesehatan Kabupaten Banyumas mulai pukul 08.00 dan baru selesai pukul 14.30. Saat itu ia mendapatkan nomor antrean 63 di bagian verifikasi berkas dan 50 di bagian pembayaran iuran pertama. Jadi, sangat penting untuk datang sepagi mungkin jika ingin menyelesaikannya dalam sehari. Alternatif lainnya, calon peserta bisa menyelesaikan pendaftaran dalam waktu dua hari atau lebih dengan memberi jeda untuk keesokan harinya dari 4 tahap itu.

Salam sehat, dan semoga berhasil.

Minggu, 11 Januari 2015

Benarkah Kita Orang yang Paling Malang di Dunia Ini?

(Sumber foto: dakwatuna.com)
(InfoDidaku-11/01/15) Pernah datang seorang ibu ke sebuah kantor lembaga sosial. Ia membawa serta seorang anaknya yang masih kecil. Di sana ia berkata ingin meminta bantuan untuk membayar seragam TK dua orang anak kembarnya. Ia mengaku tidak mampu membayarnya karena penghasilannya sehari-hari sama sekali tak cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Petugas di kantor itu pun meminta keterangan lebih jauh tentang kondisinya. Dari situ terkuaklah kalau dia sudah ditinggalkan suaminya entah ke mana semenjak beberapa bulan sebelumnya. Ia punya lima orang anak yang kesemuanya masih sekolah. 

Lalu pernah datang yang lain. Seorang wanita usia hampir 40 tahun yang rutin sekali meminta bantuan untuk kontrol ke rumah sakit. Ia seorang buta. Qodarullaah, selain kebutaannya yang semakin parah, penyakitnya yang lain tak kunjung sembuh. Dari mulai asam urat, jantung, saraf kejepit, sembelit, ginjal, dan seterusnya. Setiap datang ia sering mengeluh habis pingsan, dan merasa sakit di bagian ini dan itu. Sebulan sekali ia datang minta bantuan uang transport ke rumah sakit. Ayahnya hanya seorang tukang becak. Ke mana-mana ia ditemani adik atau ayahnya, karena sampai usia sekian ia tak kunjung menemukan jodohnya.

Berbulan-bulan sebelumnya, juga sering datang ke sebuah kantor lembaga sosial, seorang wanita paruh baya yang sangat gesit ke sana ke mari meminta bantuan. Penampilannya menunjukkan kalau usianya sudah menjelang senja. Kurus, gigi-giginya sudah hampir habis, matanya cekung. Tapi ia mengaku masih bekerja menjadi buruh serabutan ke sana ke mari, karena ia menjadi andalan anaknya untuk membiayai sekolahnya. Suaminya sakit-sakitan, dan sering memarahinya ketika rasa sakitnya tak tertahankan lagi. Tak kenal siang/malam. Malam ia jarang bisa tidur nyenyak, siangnya ia harus banting tulang, plus berjalan ke sana ke mari mencari bantuan ketika anaknya menuntut harus segera bayar ini itu.

Mereka bukan hanya satu-dua. Ada begitu banyak orang seperti mereka di dunia ini. Petugas salah satu kantor lembaga sosial itu menyatakan bahwa tahun lalu ia pernah menemui setidaknya lebih dari 10 wanita dengan kondisi ditinggal suami dan harus menjadi tulang punggung keluarga. Lalu orang-orang dengan penyakit berkepanjangan yang harus rutin berobat dengan biaya tidak sedikit. Mereka yang terlilit hutang dan harus menjual habis hartanya. Dan kesemuanya berasal dari kondisi ekonomi yang jauh dari kata cukup. Belum para anak yatim/piatu, yang setiap tahun ia temui berjumlah ratusan. Mereka adalah anak-anak yang tak dapat menikmati kasih sayang ayah/ibunya dengan penuh. Dan lagi-lagi sebagian besar berlatar belakang ekonomi menengah ke bawah.

"Ah, itu kisah biasa," mungkin ada yang berkomentar satir seperti itu. Tapi semua akan terasa berbeda ketika kita menatap mata mereka, wajah mereka yang tirus, kelelahan berpikir dan bertindak menjalani hidup mereka. Dan bahkan orang-orang dengan kisah hidup lebih getir dari kisah-kisah itu masih banyak tercecer di jalan-jalan, di pinggiran kota, di desa-desa, di seluruh pelosok tanah air, di segenap penjuru dunia ini. Mereka yang hidup di tengah peperangan? Yang ketika keluar rumah bukan disambut tetangga, tapi senapan laras panjang?

Lalu cobalah tengok kehidupan kita, pantaskah kita masih mengeluh menjadi orang yang paling malang di dunia ini?

Wallaahu a'lam bishshawab.

Sabtu, 10 Januari 2015

Tertipu, Ikhlas, dan Bersyukur

(sumber foto: sharingdisini.com)

(InfoDidaku-11/01/15)--Suatu hari, seorang ibu muda berbelanja di pasar. Hari itu ia berniat memasak ikan laut. Dengan langkah mantap, ia pun menuju kios ikan laut satu-satunya di pasar dekat rumahnya itu. Di sana sudah berjajar rapi udang, ikan salmon, dan ikan laut lainnya yang sudah dibungkusi dengan plastik. Ia langsung menimang-nimang satu bungkus ikan salmon yang sudah dipotong-potong.

“Ini sama kayak yang kemarin kan, Bu?” ujar si Ibu Muda, karena ia sudah pernah membeli ikan yang sama kepada penjual itu beberapa hari sebelumnya.
“Iya, Bu. Sama,” jawab si penjual.
“Setengah kilo ini?” ujarnya agak ragu karena isi bungkusan tampak lebih sedikit dari yang sebelumnya.
“Iya, lima belas ribu,” jawab si penjual lagi. “Itu ada yang potongannya besar, ada yang kecil, jadi kelihatannya beda,” lanjutnya melihat si Ibu Muda yang masih bermimik agak ragu. Ia tersenyum.
Tanpa pikir panjang, si Ibu Muda pun memilih satu bungkus dan memberikan si penjual uang lima belas ribu rupiah.
“Terima kasih,” kata si Ibu Muda sembari tersenyum.
“Sama-sama,” sahut si penjual, membalas senyumnya.
Sesampainya di rumah, si Ibu Muda langsung membuka bungkusan ikan salmon itu untuk diolah. Suaminya yang sedang ada di dapur ikut membantu memotongi ikan itu.
“Ini berapa segini?” tanya sang suami.
“Lima belas ribu,” jawab si Ibu Muda.
“Wah, mahal, ya,” ujar sang suami kemudian.
“Kayak yang kemarin kok, Mas, setengah kilo,” kata si Ibu Muda.
“Masa, sih? Kayaknya ini lebih sedikit, kayak seperempat kilo,” kata sang suami.
Si Ibu Muda pun menghampiri suaminya dan melihat potongan-potongan ikan yang sudah dimasukkan ke dalam baskom kecil. “Oh iya, ya... Tadi penjualnya bilang itu sama kayak kemarin. Wah, berarti aku ditipu ini, Mas. Tadi aku juga agak ragu, tapi aku lupa bungkusan yang kemarin banyaknya seberapa,” si Ibu Muda pun tampak sangat menyesal. Maklumlah, ibu-ibu, selisih seratus rupiah pun biasanya dibela-bela kalau belanja. “Apa aku balik ke sana lagi saja, ya, Mas?” lanjutnya.
“Ya aneh, apalagi ikannya sudah dipotong-potong...” ujar sang suami.
“Iya, ya. Haduh, menyesal aku...” kata si Ibu Muda.
“Ya jangan menyesal, dong,” ujar sang suami. “Berarti itu rejekinya si penjual,” simpulnya sederhana sembari tersenyum.
“Hmmm...” gumam si Ibu Muda, ia pun ikut tersenyum kemudian.

Itu adalah sepenggal kisah nyata dari salah satu saudari sesama muslim kita. Mungkin masih banyak kisah lain yang serupa. Banyak para ibu-ibu atau siapapun yang membeli sesuatu kemudian merasa tertipu karena harganya lebih mahal dari yang seharusnya. Banyak di antara mereka yang menyesal seharian penuh, bahkan malamnya tidak bisa tidur, terutama jika barang yang ia beli bernilai besar.

Bagi si ibu muda tadi, pernyataan suaminya sungguh menenangkan. Betul juga, mungkin memang itu adalah rejeki si penjual, terlepas dari status halal/haramnya. Kalau terus-terusan disesali malah akan jadi penyakit buat kita. Sekali-kali. Biasanya juga kita sering menawar ke penjual dan bisa dapat murah. Atau mungkin itu jadi hukuman buat ibu-ibu yang suka menawar keterlaluan sama penjual, wallahu a’lam.

Dalam kisah tadi, si Ibu Muda pun mengaku berdoa kepada Allah. Jika ia ikhlas, ia berharap supaya nutrisi ikan salmon yang ia beli akan tetap sama dengan jumlah yang ia bayarkan. Bukankah tidak ada yang tidak mungkin kalau Allah sudah berkehendak? Kita punya logika bahwa anak-anak yang selalu makan-makanan mahal dan bergizi tinggi otomatis akan menjadi anak yang cerdas. Tetapi bukankah kita juga tidak jarang melihat anak-anak cerdas lahir dari keluarga sederhana yang hampir setiap hari hanya makan nasi dan kerupuk saja? Di situlah letak berkah Allah. Allah akan melipatgandakan rizki orang-orang yang bersyukur. Mungkin saja, keluarga sederhana yang setiap hari hanya makan dengan lauk kerupuk sangat pandai bersyukur dan penuh kesabaran. Kualitas gizi kerupuk yang ia makan jadi lebih tinggi dari unagi, misalnya, yang selalu dibangga-banggakan orang Jepang itu. (Note: tapi perumpamaan ini jangan dijadikan hujjah untuk hidup pelit--jika kita mampu--dengan hanya makan kerupuk setiap hari asal bersyukur). Kita harus tetap berusaha makan-makanan yang bergizi, tapi juga tidak berlebihan).

Si Ibu Muda dan suaminya mungkin tak memakan ikan salmon sebanyak sebelumnya, tetapi bisa saja nutrisi yang mereka dapatkan saat itu malah jauh lebih besar, insya Allah. Karena mereka ikhlas dan tetap bersyukur. Mereka tak terus menanamkan buruk sangka dan kebencian pada si penjual, atau menyalahkan Allah, kenapa mereka harus ditipu--na’udzbuillaah. Mereka kemudian hanya mengambil sikap untuk lebih berhati-hati ketika berbelanja lain kali. Tak lebih. Mereka pun tetap bisa menjalani hari itu dengan tenang.



Wallahu a’lam bishshawab.