![]() |
| (Sumber foto: dakwatuna.com) |
(InfoDidaku-11/01/15) Pernah datang seorang ibu ke sebuah kantor lembaga sosial. Ia membawa serta seorang anaknya yang masih kecil. Di sana ia berkata ingin meminta bantuan untuk membayar seragam TK dua orang anak kembarnya. Ia mengaku tidak mampu membayarnya karena penghasilannya sehari-hari sama sekali tak cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Petugas di kantor itu pun meminta keterangan lebih jauh tentang kondisinya. Dari situ terkuaklah kalau dia sudah ditinggalkan suaminya entah ke mana semenjak beberapa bulan sebelumnya. Ia punya lima orang anak yang kesemuanya masih sekolah.
Lalu pernah datang yang lain. Seorang wanita usia hampir 40 tahun yang rutin sekali meminta bantuan untuk kontrol ke rumah sakit. Ia seorang buta. Qodarullaah, selain kebutaannya yang semakin parah, penyakitnya yang lain tak kunjung sembuh. Dari mulai asam urat, jantung, saraf kejepit, sembelit, ginjal, dan seterusnya. Setiap datang ia sering mengeluh habis pingsan, dan merasa sakit di bagian ini dan itu. Sebulan sekali ia datang minta bantuan uang transport ke rumah sakit. Ayahnya hanya seorang tukang becak. Ke mana-mana ia ditemani adik atau ayahnya, karena sampai usia sekian ia tak kunjung menemukan jodohnya.
Berbulan-bulan sebelumnya, juga sering datang ke sebuah kantor lembaga sosial, seorang wanita paruh baya yang sangat gesit ke sana ke mari meminta bantuan. Penampilannya menunjukkan kalau usianya sudah menjelang senja. Kurus, gigi-giginya sudah hampir habis, matanya cekung. Tapi ia mengaku masih bekerja menjadi buruh serabutan ke sana ke mari, karena ia menjadi andalan anaknya untuk membiayai sekolahnya. Suaminya sakit-sakitan, dan sering memarahinya ketika rasa sakitnya tak tertahankan lagi. Tak kenal siang/malam. Malam ia jarang bisa tidur nyenyak, siangnya ia harus banting tulang, plus berjalan ke sana ke mari mencari bantuan ketika anaknya menuntut harus segera bayar ini itu.
Mereka bukan hanya satu-dua. Ada begitu banyak orang seperti mereka di dunia ini. Petugas salah satu kantor lembaga sosial itu menyatakan bahwa tahun lalu ia pernah menemui setidaknya lebih dari 10 wanita dengan kondisi ditinggal suami dan harus menjadi tulang punggung keluarga. Lalu orang-orang dengan penyakit berkepanjangan yang harus rutin berobat dengan biaya tidak sedikit. Mereka yang terlilit hutang dan harus menjual habis hartanya. Dan kesemuanya berasal dari kondisi ekonomi yang jauh dari kata cukup. Belum para anak yatim/piatu, yang setiap tahun ia temui berjumlah ratusan. Mereka adalah anak-anak yang tak dapat menikmati kasih sayang ayah/ibunya dengan penuh. Dan lagi-lagi sebagian besar berlatar belakang ekonomi menengah ke bawah.
"Ah, itu kisah biasa," mungkin ada yang berkomentar satir seperti itu. Tapi semua akan terasa berbeda ketika kita menatap mata mereka, wajah mereka yang tirus, kelelahan berpikir dan bertindak menjalani hidup mereka. Dan bahkan orang-orang dengan kisah hidup lebih getir dari kisah-kisah itu masih banyak tercecer di jalan-jalan, di pinggiran kota, di desa-desa, di seluruh pelosok tanah air, di segenap penjuru dunia ini. Mereka yang hidup di tengah peperangan? Yang ketika keluar rumah bukan disambut tetangga, tapi senapan laras panjang?
Lalu cobalah tengok kehidupan kita, pantaskah kita masih mengeluh menjadi orang yang paling malang di dunia ini?
Wallaahu a'lam bishshawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar